Equityworld Futures – Berikut merupakan informasi terbaru terkait Harga Nikel Menguat Usai RI Pangkas Kuota Tambang Nikel Raksasa yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya dan telah disesuaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pembaca.
Kebijakan ini memperketat pasokan dari negara yang kini menjadi produsen nikel dominan secara global..
Sejumlah perusahaan tambang Barat bahkan memilih hengkang dari bisnis nikel Indonesia..
Langkah ini diambil setelah beberapa tahun terakhir pasar dibanjiri pasokan, yang menyebabkan harga nikel tertekan. Selain itu, bertahan di bawah US$20.000 per ton dalam 18 bulan terakhir..
Mengutip Financia Times, harga nikel acuan di London Metal Exchange (LME) naik sekitar 2% mendekati level US$18.000 per ton.
Sejak awal tahun, harga nikel memang telah menunjukkan tren penguatan, didorong ekspektasi pengetatan kuota produksi di Indonesia..
Pemerintah kini berupaya menyeimbangkan pasar melalui sistem perizinan. Selain itu, kuota.
Transformasi industri nikel Indonesia tidak lepas dari kebijakan pelarangan ekspor bijih mentah sejak 2020.
Meski demikian, Eramet menyatakan tetap berkomitmen menjaga komunikasi dengan pemerintah Indonesia. Selain itu, berencana mengajukan revisi kuota agar dapat memperoleh volume produksi yang lebih tinggi..
Secara keseluruhan, pemerintah berencana memangkas kuota produksi bijih nikel nasional lebih dari 100 juta ton menjadi sekitar 260-270 juta ton tahun ini.
Tujuannya, untuk menopang harga agar lebih stabil serta membantu perusahaan domestik yang menghadapi tekanan margin. Selain itu, potensi kerugian akibat harga rendah.
Indonesia dalam satu dekade terakhir telah bertransformasi dari pemain kecil menjadi raksasa nikel dunia, dengan kontribusi sekitar dua pertiga produksi global.
Sementara itu, Anglo American sedang dalam proses menjual bisnis nikelnya kepada MMG Singapore Resources, bagian dari grup MMG yang dikendalikan China..
Angka tersebut turun dari 379 juta ton pada 2025..
Hal ini disebabkan oleh belum memperoleh persetujuan. Selain itu, kuota produksi untuk tahun 2026. sehingga Sementara itu, perusahaan tambang asal Brasil, Vale, pada Januari lalu juga mengumumkan penghentian sementara operasional nikel di Indonesia.
Tekanan harga sebelumnya juga berdampak pada sejumlah perusahaan tambang global..
BHP, yang sebelumnya merupakan salah satu produsen nikel terbesar dunia, telah menutup operasinya di tengah kondisi pasar yang lesu.
Namun lonjakan produksi tersebut memicu kelebihan pasokan (oversupply) yang menekan harga, terutama untuk komoditas yang digunakan dalam industri baja tahan karat. Selain itu, baterai kendaraan listrik..
Eramet, yang sahamnya tercatat di Paris. Selain itu, tengah menghadapi isu tata kelola, termasuk salah satu yang terdampak pelemahan harga.
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga nikel dunia kembali menguat setelah pemerintah Indonesia memutuskan memangkas tajam kuota produksi di Weda Bay, yang menjadi tambang nikel terbesar di dunia.
Aturan tersebut mendorong pembangunan fasilitas pengolahan. Selain itu, pemurnian (smelter) di dalam negeri, yang banyak didukung investasi besar dari perusahaan China..
Pangsa pasar ini diperkirakan masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan..
Tambang Weda Bay yang dioperasikan oleh perusahaan Prancis Eramet bersama grup Tsingshan Holding asal China, hanya mendapatkan izin memproduksi 12 juta ton bijih nikel pada tahun ini..
Berdasarkan data Macquarie, Indonesia menyumbang sekitar 65% pasokan nikel olahan global pada 2025, melonjak drastis dari hanya 6% pada 2015.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kuota 42 juta ton yang diberikan pemerintah pada 2025..
Perkembangan terkait Harga Nikel Menguat Usai RI Pangkas Kuota Tambang Nikel Raksasa akan terus dipantau mengingat dampaknya terhadap kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan ulang untuk tujuan edukasi dan informasi pasar.
Untuk informasi resmi kunjungi website kami di:
Berita Equity World Futures
Baca juga:
- IHSG Melaju Kencang, Saham Ini Masuk Rekomendasi Analis
- Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2024: Manufaktur dan Sektor Terkait Pemilu Menjadi Pendorong Utama
